Kamis, 22 Maret 2012

Karya Ilmiah

BAB 1
PENDAHULUAN
 
A.    LATAR BELAKANG
Gambiran merupakan salah satu pedukuhan di Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati. Dukuh Gambiran termasuk salah satu dukuh yang terbesar, disamping ada dukuh Gebyaran, Dukuh Gemiring, Dukuh Cacah dan Dukuh Jagan. Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di dukuh Gambiran, saya mendengar dan melihat ada sesuatu yang terpendam yang pernah terjadi di pedukuhan ini. Betapa tidak Dukuh Gambiran yang hanya terdiri dari satu Rukun Warga dan empat Rukun Tetangga memiliki tujuh areal pemakaman, ada satu masjid yang memiliki ciri unik, bahwa masjid ini dibangun pada masa awal Islam di Jawa.
Kondisi Dukuh Gambiran kini berbeda, masjid masih berdiri kokoh dan beberapa makam masih tetap digunakan sebagai penguburan umum, tetapi dukuh Gambiran kurang mencerminkan bahwa daerah itu dahulu merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di daerah Pati. Indikatornya adalah sedikit penduduk yang memiliki pengetahuan agama Islam, hanya ada beberapa yang dapat membaca Al-Qur’an secara tartil. Oleh karena itu perlu dalam makalah ini akan dibahas mengapa Dukuh Gambiran yang dahulu merupakan pusat pengembangan Islam di daerah Pati bergeser ke arah Pati ( kota ).


B.    PEMBATASAN MASALAH
Penelitian ini hanya membahas tentang perkembangan agama Islam di Dukuh Gambiran, tokoh-tokoh yang berjasa dalam mengembangkan agama Islam, bukti-bukti bahwa Gambiran pernah merupakan pusat perkembangan agama Islam di daerah Pati dan sekitarnya dan sebab-sebab Gambiran tidak lagi menjadi pusat pengembangan agama Islam sekitar abad ke-19.

C.    RUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian ini perlu dirumuskam masalah sebagai berikut :
1.    Siapakah yang pertama kali menyiarkan agama Islam di Dukuh Gambiran.
2.    Apa bukti yang dijadikan dasar bahwa Dukuh Gambiran pernah menjadi pusat pengembangan agama Islam di daerah Pati dan sekitarnya.
3.    Apa latar belakang dukuh Gambiran tidak lagi menjadi pusat pengembangan agama Islam.
4.    Apa saja usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengembalikan Dukuh Gambiran sebagai pusat pengembangan agama Islam.

D.    TUJUAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini memiliki beberapa tujuan yaitu untuk mengetahu :
1.    Siapa yang pertama kali menyiarkan agama Islam di Dukuh Gambiran.
2.    Bukti yang dijadikan dasar bahwa Dukuh Gambiran pernah menjadi pusat pengembangan agama Islam di daerah Pati dan sekitarnya.
3.    Latar belakang daerah Gambiran tidak lagi menjadi pusat pengembangan agama Islam.
4.    Usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengembalikan Dukuh Gambiran sebagai pusat pengembangan agama Islam.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Penelitian ini memang sangat menarik, mendeskripsikan suatu peristiwa yang pernah terjadi begitu lama dan hampir tidak ada bukti tertulis menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti. Memang diakui peneliti, bahwa Gambiran bukanlah memiliki peran secara nasional, sehingga hampir tidak ada penulis yang mempublikasikannya, tetapi bagi peneliti Gambiran memiliki daya tarik untuk diungkapkan. Peneliti dalam mendiskripsikan Gambiran hanya berdasarkan ” Prasasti Gambiran ” dan beberapa nara sumber yang masih memiliki memori tentang jejak-jejak sejarah Gambiran. Prasasti Gambiran menjadi titik tolak dalam penelitian ini, sebab dalam prasasti itu disebutkan pada tahun 1885 Masjid Gambiran direnovasi oleh Bupati Pati Kanjeng Raden Ario Candrahadinegoro. Dalam renovasi ada sesuatu yang sangat mendasar, yakni pergantian kubah. Dan kubah yang diganti kemudian dipasangkan pada masjid Tawangrejo. Pergantian kubah inilah yang diyakini oleh masyarakat sebagai awal kemunduran pengembangan agama Islam di Gambiran.
Permasalahan tentang Gambiran yang pernah menjadi pusat pengembangan agama Islam di daerah Pati dan sekitarnya, kemudian Gambiran ditinggalkan sehingga kondisinya suram seperti saat kini, dapat digunakan teori perubahan tentang tata kota, dimana dalam sistem ” Macapat ” maka tanah lapang dikelilingi pusat pemerintahan, pusat agama, pusat ekonomi dan pusat keamanan. Maka dengan pendirian Masjid Pati Kota, dimulailah migrasi para alim ulama dari Gambiran ke Pati Kota.
Dalam membahas keruntuhan dan pindahnya kerajaan Mataram Hindu dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, salah satu disebabkan oleh bencana alam. Begitu juga di Gambiran akibat meluapnya sungai Gambiran yang merusakkan pemukiman penduduk, maka perlahan-lahan penduduk Kajen meninggalkan lokasi untuk pindah ke tempat yang lebih aman atau mendekati daerah perkotaan.

BAB III
METODOLOGI

A.    METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu mendiskripsikan sesuatu yang pernah terjadi dengan meneliti sumber-sumber sejarah, baik sumber lisan maupun non-lisan. Disamping itu untuk memperoleh informasi, peneliti melakukan beberapa wawancara kepada nara sumber yang dipandang memiliki pengalaman langsung atau yang memiliki pengetahuan tentang objek sejarah yang sedang diteliti.

B.    SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I Pendahuluan.
Bab ini berisi latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian.
Bab II Kajian Pustaka.
Bab ini berisi tentang diskripsi Gambiran yang hanya berdasarkan ” Prasasti Gambiran ” dan beberapa nara sumber yang masih memiliki memori tentang jejak-jejak sejarah Gambiran.
Bab III Metodologi
Bab ini berisi tentang metode penelitian dan sistematika penelitian.
Bab IV Pembahasan
Bab ini berisi gambiran sebagai pusat pengembangan agama islam, pudarnya gambiran sebagai pusat pengembangan agama islam, dan usaha mengembalikan gambiran sebagai pusat pengembangan agama islam.
Bab V Penutup
Bab ini berisi kesimpulan dan saran.

BAB IV
PEMBAHASAN

A.    GAMBIRAN SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN AGAMA ISLAM
Untuk mengupas perkembangan Agama Islam di Dukuh Gambiran Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati, tidak dapat dilepaskan peran beberapa tokoh berikut ini :
a.    Mbah Cungrung Abad ke-16.
Untuk mengungkap jati diri siapa sebenarnya Mbah Cungkrung bukanlah pekerjaan mudah, sebab sumber sejarah mengenai Mbah Cungkrung teramat minim, bahkan sejarah tertulis sulit untuk dijumpai. Satu-satunya sumber sejarah Mbah Cungkrung adalah sumber lisan yaitu cerita dari tokoh masyarakat atau orang yang memiliki perhatian terhadap keberadaan Mbah Cungkrung dan sumber non-lisan atau benda yaitu berupa makam Mbah Cungkrung.
Menurut penuturan Bapak Sugito (Imam Masjid Baiturrohim dukuh Gambiran), orang yang pertama kali menyiarkan agama Islam di Gambiran adalah Mbah Cungkrung. Tokoh ini dipercaya oleh masyarakat sebagai nenek moyangnya warga Gambiran. Nama Cungkrung bukanlah nama asli, tetapi hanya julukan, nama aslinya sampai sekarang belum ada yang mengetahuinya. Cungkrung berasal dari kata ” jungkrung ” artinya sujud. Tokoh ini dipercaya oleh masyarakat sebagai tokoh yang dituakan. Setelah berguru dengan Sunan Muria, maka kepercayaan lama yaitu menyembah roh nenek moyang mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, maka tokoh ini masuk agama Islam. Berkat didikan Sunan Muria tokoh ini sangat rajin dalam menjalankan syariat Islam dan memiliki kebiasaan baru yaitu sangat rajin sujud menyembah kepada Allah SWT. Sholat lima waktu selalu dikerjakan, biila malam tiba ganti melaksanakan sholat malam yang biasa masyarakat menyebut sholat tahajud. Dalam sholat tahajud inilah tokoh ini berlama-lama melakukan sujud, memohon ampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan sebelum memeluk agama Islam, hanya kepada Allah SWT saja, tokoh ini rela bersujud untuk menghambakan diri dengan harapan agar diberi ridhoNYA. Kebiasaan sujud inilah yang pada akhirnya melekat pada si tokoh ini dan selanjutnya ia mendapat julukan Mbah Jungkrung, lidah masyarakat sulit melafatkan jungkrung sehingga populer dengan sebutan Cungkrung. Setelah masuk Islam, Mbah Cungkrung sangat aktif menyiarkan agama Islam. Mulai dari keluarga, kerabat dekatnya dan masyarakat sekitarnya diajak untuk masuk Islam. Untuk melaksanakan syiar agama, maka dibangunlah suatu Masjid. Masjid ini memiliki gaya arsitektur kuno yaitu atapnya bertingkat, suatu seni arsitektur yang meniru Masjid Demak. Masjid Gambiran dibangun pada abad ke-16. Hal ini dapat dilihat dari masa kehidupan Sunan Muria, sehingga ini juga dapat diambil kesimpulan bahwa Mbah Cungkrung hidup sekitar abad ke-16.
Perjuangan Mbah Cungkrung dalam menyebarkan agama Islam sedikit demi sedikit membawa hasil. Gambiran menjadi sentral bagi penyebaran Islam di kawasan Pati dan sekitarnya. Banyak pemuda yang berasal dari luar datang ke Gambiran untuk menjadi santri Mbah Cungkrung. Ketika para santri kembali ke daerahnya masing-masing, maka para santri ini akan menyiarkan agama Islam di daerahnya. Menurut keterangan Kyai Haji Hishom ( seorang ulama dari Desa Tawangharjo Kecamatan Winong ), agama Islam yang berkembang di Winong dahulu berasal dari seorang santri yang telah berguru kepada Mbah Cungkrung. Pengakuan yang sama dilontarkan oleh Kyai Jaelani ( ulama Desa Bremi Kecamatan Gembong ), dahulu ada beberapa warga Desa Bremi yang berguru pada Mbah Cungkrung, sehingga setelah kembali ke desa asalnya, maka para santri ini mendirikan mushola atau langgar untuk mengajar Al-Qur’an dan syiar agama Islam kepada warga sekitarnya.
Peran besar yang pernah diemban oleh si Mbah Cungkrung sampai saat ini tidak pernah dilupakan oleh masyarakat. Makam Mbah Cungkrung yang terletak di samping selatan Masjid Baiturrohim Gambiran sampai saat ini masih dipelihara dengan baik bahkan tahun 2008, makamnya direnovasi sehingga sudah layak sebagai makam yang dikunjungi para peziarah. Batu nisan Mbah Cukrung dahulu berasal dari kayu, mengingat usia yang begitu lama maka kayu nisan ini dimakan oleh ulat rayap, sehingga makam Mbah Cukrung sekarang terlihat gundukan tanah dan terlihat unik. Ketika beberapa kali renovasi, yang boleh diperbaiki adalah bangunan tempat orang berjiarah, sedangkan tanah gundukan itu tetap dipertahankan. Penghargaan terhadap Mbah Cungkrung, tampak pada setiap tanggal 1 Syuro, diadakan Khoul (memperingati hari wafatnya), maka hampir penduduk Gambiran menghadiri khoul itu. Dalam khoul masyarakat memanjatkan do’a kepada Allah SWT dengan membaca Surat Yassin dan Tahlil secara bersama-sama. Peringatan khoul ini diakui oleh masyarakat bahwa Mbah Cungkrung ini merupakan tokoh awal berdirinya dukuh Gambiran. Ketokohan Mbah Cungkrung dapat juga dilihat ketika masyarakat mangadakan kenduri di makamnya. Kenduri dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT melalui Mbah Cungkrung, ketika ada warga masyarakat yang akan melaksanakan hajatan, menerima anugerah kenikmatan atau ketika sembuh dari sakit, tidak jarang mereka mengadakan pelaksanaan nadzar dengan melakukan kenduri. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Gambiran melaksanakan nadzar dengan manganan ( kenduri ) di makam Mbah Cukrung. Bahkan ada beberapa orang yang melaksanakan kenduri bukan warga Gambiran. Untuk melaksanakan kenduri ini masyarakat tidak terikat waktu. Maksudnya pelaksanakan hari kenduri dapat dilaksanakan kapan saja. Ketika ada kenduri yang memimpin doanya adalah Bapak Fadholi.
Ada cerita menarik, ketika sekitar tahun 1960 an, makam Mbah Cungkrung di renovasi. Pada waktu itu, para pekerja ( sambatan atau kerja gotong royong yang tanpa dibayar ) sedang melaksanakan pembongkaran bangunan makam, tiba-tiba bangunan atap kayu roboh dan menimpa warga yang sedang memperbaikinya. Beberapa korban berjatuhan, anehnya mereka tidak mengalami luka, hanya ada satu pemuda yang saat itu pingsan, dan merasakan tubuhnya sakit semua. Maka pemuda itu ( Bapak Sugito ), digotong dan dibawa pulang. Ketika sudah dirumah, tidak berapa lama datanglah seorang peziarah yang berasal dari luar daerah ( mengaku berasal dari Surabaya ). Setelah berziarah, mendengar cerita ada pemuda yang sakit akibat tertimpa bangunan, maka peziarah itu mendatangi rumah Bapak Sugito untuk memberi pertolongan. Hanya dengan mengusap tubuhnya, maka Bapak Sugito sudah sembuh tidak lagi merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Anehnya, peziarah itu kemudian pulang dan tidak diketahui kemana perginya.
Pada tahun 2008, ketika makam Mbah Cungkrung direnovasi, ada kejadian menarik. Mungkin ini lepas dari pengamatan penduduk. Ketika makam dibongkar dan atap belum berhasil didirikan selama kurun waktu seminggu, maka Gambiran selalu diselimuti awan atau mendung yang menunjukkan akan datangnya hujan. Tetapi anehnya, selama satu minggu hujan tidak pernah turun walaupun mendung tebal, dan hujan terjadi di sekitar Gambiran. Tepat malam hari setelah makam Mbah Cungkrung berhasil didirikan, bangunan sudah diberi atap, maka hujan deras turun membasahi bumi Gambiran.
b.    Syeik Muhammad Hendro Kusumo Abad ke-18.
Tokoh ini merupakan putra KH Muttamakin ( ulama besar yang sangat terkenal di daerah Pati dan sekitarnya ). Kedatangan Mbah Hendro abad ke-18 ( begitu julukannya ) di Gambiran adalah untuk menuntut ilmu dan sekaligus membantu mengembangkan agama Islam di Gambiran. Sudah menjadi kebiasaan di kalangan keluarga santri, anaknya akan dipondokkan kepada kyai lain, bahkan sebelum menggantikan posisi bapaknya, kadangkala ia harus mengenyam pendidikan di pondok pesantren lebih dari satu kali. Ternyata Mbah Hendro merasa kerasan tinggal di Gambiran sampai akhir hayatnya beliau dimakamkan di Kajen, Gambiran, Sukoharjo, Margorejo, Pati. Kompleks makam Mbah Hendro terletak di tepi sungai Gambiran. Makam seluas 0,8 ha ini baru ditemukan oleh masyarakat pada tahun 1972. Sebelum ditemukan, makam ini seperti gerumbul, ditumbuhi semak belukar sehingga tidak nampak sebagai makam. Penemuan makam ini diawali mimpi oleh seseorang, kemudian orang ini mencari daerah itu, dan berhasil menemukannya. Selanjutnya penemuan makam ini dikonfirmasi pada keluarga besar KH Muttamakin, dan akhirnya pihak keluarga membenarkan bahwa makam ini benar makam Mbah Muhammad Hendro Kusumo, dan selanjutnya dibersihkan dan dipugar sehingga layak untuk diziarahi.

Gambar 3. Penulis dan Juru Kunci Makam Syeik Muhammad Hendro Kusumo.

Sebagai bentuk penghormatan kepada beliau, maka setiap tanggal 27 Rajab, masyarakat Desa Sukoharjo bersama dengan keluarga besar Mbah KH Muttamakin mengadakan Khoul. Hampir dapat dipastikan acara khoul ini akan dihadiri oleh seorang tokoh nasional yang masih keturunan Mbah Muttomakin yakni KH Sahal Mahfudz ( Ketua Syuriah PB NU ). Biaya pelaksanaan khoul pada awalnya ( 1973 ) ditanggung oleh pihak keluarga, mulai tahun 2000 ditanggung pihak keluarga dan masyarakat Desa Sukoharjo dan sejak tahun 2007 seluruh biaya ditanggung oleh masyarakat Desa Sukoharjo. Biaya ini berasal dari pihak desa, donatur, infak shodaqoh para peziarah dan hasil lelang kelambu atau kain yang dipasang untuk menutupi makam Mbah Muttamakin. Pelaksanaan lelang kelambu ini seperti mengikuti lelang pada umumnya, yaitu barang itu ditawarkan kepada para peziarah, yang menawar dengan harga tertinggi itulah yang akan ditetapkan sebagai pemenang lelang. Dari hasil lelang kelambu, panatia akan memperoleh uang yang lumayan banyak sehingga uang ini dapat digunakan oleh biaya operasional makam selama satu tahun anggaran.
Sebelum hari puncak pelaksanaan khoul, tiga hari ( 3 ) sebelumnya diadakan berbagai kegiatan, mulai dari pembacaan shalawat burdah, pembacaan Manaqib Syeik Abdul Qodir Jaelani, khataman Al-Qur’an baik secara bil-nadhor maupun bil-ghoib, pembacaan Surat Yasin dilanjutkan dengan tahlil dan akhir acara ditutup dengan melaksanakan pengajian umum dengan mendatangkan dai dari luar daerah.
Kegiatan khoul dihadiri oleh ribuan pengunjung atau peziarah. Mereka datang dari berbagai pelosok wilayah kabupaten Pati, baik dari keturunan darah maupun yang merasa pernah berguru atau menjadi santri dari keturunan Mbah Muttamakin. Mulai hari pertama pelaksanaan kegiatan khoul, sampai dengan hari terakhir, pengunjung diperkirakan mencapai 5000 orang. Konsumsi yang dibagikan berasal dari shodaqoh warga begitu juga ketika hari H pelaksanaan khoul ada tradisi membagi nasi bungkusan yang berasal dari warga Sukoharjo. Para peziarah tidak jarang saling memperebutkan nasi ini, ada keyakinan bahwa nasi ini memiliki berkah atau manfaat bagi yang membutuhkannya sesuai dengan kepentingannya. Seorang petani akan memandang nasi dapat menyuburkan tanaman pertaniannya, seorang pedagang memandang nasi ini dapat melariskan dagangannya, bahkan orang yang memiliki penyakit tertentu akan merasa bahwa nasi ini akan menjadi obat.
c.    Kyai Sholeh Abad ke-19.
Tokoh ini merupakan pembesar Kabupaten Pati yang kini makamnya ada di Kajen Dukuh Gambiran Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati. Menurut keterangan Mbah Sutarto ( Guru tasawuf yang bermukim di dekat makam dan sekaligus sebagai penerus Mbah Sholeh ), mengatakan bahwa Kyai Sholeh mendalami ilmu tasawwuf, suatu ilmu yang berusaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Allah SWT dengan menjalankan beberapa amalan. Salah satu amalan yang harus dilaksanakan adalah menyebut asma Allah SWT sampai ratusan kali, disamping juga berusaha melupakan kehidupan duniawi. Areal makam Mbah Sholeh berdekatan dengan makam Mbah Muhammad Hendro Kusumo dan sama-sama terletak di tepi sungai Gambiran. Makam Mbah Sholeh dahulu juga terlupakan, berkat tangan KH Ma’ruf yang berasal dari Kudus maka makam ini menjadi tempat ziarah bagi pengikut Mbah Sholeh.


Gambar 4. Penulis dan Narasumber Di Depan Makam Mbah Shaleh.

Mengingat Mbah Sholeh yang mengikuti aliran tasawuf, maka para santri yang menziarahinya juga berasal dari kalangan tasawuf, sehingga makamnya nampak lebih sunyi. Santri Mbah Sholeh tersebar di berbagai pelosok, ada yang berasal dari berbagai daerah, misalnya KH Shobib berasal dari Jepara, KH Ma’ruf berasal dari Kudus, KH Maqasin dari Salatiga dan lain sebagainya. Setiap tanggal 15 Rajab, para santri itu berdatangan ke makam Kyai Sholeh untuk melaksanakan khoul. Dalam acara itu disamping pembacaan Surat Yassin dan Tahlil juga diisi pengajian. Yang menarik dalam ceramah pengajian juga selalu bertemakan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Tuhan dengan melaksanakan amalan-amalan wirid dan selalu menjauhi kemewahan dunia dengan mengedepankan prinsip hidup sederhana.
d.    Kyai Murtomo Abad ke-19.
Menurut penuturan Bapak Fadholi ( salah satu keturunan Mbah Murtomo yang kini menjadi Staf Kaur Kesra Desa Sukoharjo ), bahwa Mbah Murtomo dahulu diyakini sebagai salah satu kyai yang menjadi salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro ( 1825 – 1830 ) yang ditugaskan memimpin perlawanan kepada Belanda di daerah Pati dan sekitarnya.
Dalam pelajaran sejarah tidak banyak mengenal tokoh yang satu ini, begitu juga masyarakat Pati umumnya, tetapi bagi masyarakat Gambiran, Mbah Murtomo sangat dikenal. Sebab makamnya, Mbah Murtomo ada di Gambiran dan setiap tanggal 10 Muharam diadakan acara khoul yang dihadiri oleh masyarakat Gambiran dan keluarga yang kini sudah tersebar di berbagai daerah.


Gambar 5. Penulis Di Makam Mbah Murtomo.

Peran Mbah Murtomo dalam perjuangan melawan Belanda dapat dirunut melalui peran pondok pesantren. Dalam sejarahnya, pondok pesantren memiliki peran sangat penting, sebab hampir semua sikap para ulama dan santrinya anti kepada Belanda. Mereka memandang Belanda termasuk golongan orang kafir. Dalam ajarannya, orang Islam dilarang mendekati atau berkawan dengan orang kafir, sebab orang kafir itu musuhnya orang Islam.
Gambiran merupakan desa santri, wajar apabila muncul seorang pemimpin yang memelopori perlawanan terhadap kaum kafir.
e.     Beberapa Bukti Gambiran Sebagai Pusat Penyebaran Islam
1.    Masjid Baiturrohim.
Pusat penyebaran agama Islam dimulai dari Masjid. Dalam agama Islam, masjid memiliki peran yang sangat sentral, yaitu berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, melaksanakan sholat berjamaah, tempat untuk menimba ilmu agama atau mempelajari Al-Qur’an.. Masjid juga menjadi pusat dakwah atau menyebarkan agama Islam kepada seluruh warga Gambiran dan sekitarnya, atau masjid itu memiliki fungsi lain, misalnya sebagai tempat pertemuan warga ataupun sarana bermain bagi anak-anak.

Masjid Baiturrohim Gambiran, oleh penduduk dikatakan sebagai masjid wali ( sebutan orang yang dekat atau dikasihani oleh Allah SWT ). Keyakinan ini dapat dibuktikan melalui, pertama, masjid ini memiliki arsitektur kuno. Hal ini mengingatkan pada masjid yang didirikan para wali yang beratap tingkat, misalnya Masjid Demak, Masjid Cirebon. Masjid Baiturrohim Gambiran memiliki empat saka, masing-masing memiliki dua buah jendela yang berada di depan dan di belakang, serta di samping. Masjid Baiturrohim sebelum dipugar terbuat dari kayu, baru pada tahun 1885 ketika dipugar masjid ini mulai menggunakan bangunan tembok. Kedua, masjid merupakan kompleks pemakaman. Bahkan disamping kiri masjid terdapat kompleks makam para penghulu ( sebuah jabatan yang bertugas menikahkan orang Islam ). Para penghulu dan keluarganya yang meninggal dunia dimakamkan di tempat ini, walaupun mereka sekarang sudah tidak bermukim lagi di Gambiran. Ketiga, disamping kiri masjid terdapat sebuah kolam yang berfungsi untuk mengambil air wudhu. Dahulu, ketika masjid Gambiran masih digunakan sebagai tempat untuk menikah, maka para penganten sebelum memasuki masjid, terlebih dahulu membasuh kakinya di kolam, sehingga sampai saat ini keberadaan kolam ini tetap dipertahankan.
Keempat, masjid ini dahulu pernah menjadi masjid besar kabupaten Pati. Hal ini diperkuat adanya Prasasti Gambiran.
2.    Kompleks Makam.
Gambiran memiliki beberapa makam kuno, semuanya berjumlah atau tersebar di tujuh (7) lokasi, yakni : pertama. Makam di kompleks Masjid Baiturrohim yang terdiri makam umum dan makam khusus keluarga penghulu. Kedua, makam di Buduk ( sebutan daerah di sebelah selatan Masjid yang dahulu orangnya belum menjalankan sholat disebut budha atau masyarakat menyebutnua buduk ). Makam umum ini terletak di RT 02 RW 04 yang memiliki louas 0.2 Ha. Ketiga, makam Cikar. Makam ini terletak di RT 01 RW 04 yang memiliki luas 0.4 Ha. Keempat, makam Mbah Murtomo. Makam ini hanya digunakan untuk mengubur keluarga Mbah Murtomo. Kelima, makam Tegal Kerti. Makam umum yang berada di sebelah barat masjid terletak di RT 03 RW 04 dengan luas 0.2 Ha. Keenam, makam Mbah Sholeh seluas 0.4 Ha dan ketujuh, makam Mbah M. Hendro Kusumo seluas 0.8 Ha. Makam Mbah Sholeh dan Mbah Hendro terletak di Kajen ( sebutan daerah yang berada di RT 03 RW 04, sebuah sebutan yang mengingatkan pada sebuah daerah yang dihuni oleh KH Muttamakin di Desa Kajen Margoyoso Pati ). Kedua makam ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki hubungan darah atau merasa menjadi santrinya. Sementara makam-makam yang lain masih berfungsi sampai saat ini.
3.    Keberadaan Beberapa Tokoh.
Keberadaan beberapa tokoh di Dukuh Gambiran yang telah dibahas di depan telah menjadi bukti bahwa pada masa lalu Gambiran memiliki peran yang sangat penting dalam proses pengembangan agama Islam. Tidak dapat dipungkiri keberadaan tokoh-tokoh tersebut di Gambiran memiliki peran yang sangat penting dalam proses penyebaran agama Islam. Tentunya sumbangan yang diberikan oleh para tokoh tersebut sangat berharga bagi pengembangan agama Islam di Gambiran. Jejak-jejak sejarah bagi para tokoh tersebut hingga kini masih sangat jelas.

B.    PUDARNYA GAMBIRAN SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN AGAMA ISLAM
Masuknya agama Islam di Gambiran mulai abad ke-16 yang disebarkan oleh Sunan Muria, dilanjutkan oleh Mbah Cungkrung dan beberapa tokoh lain, mulai akhir abad ke-19 menunjukkan kemunduran. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
a.    Tidak ada Penerus.
Menurut keterangan Bapak Fandoli, tokoh terakhir Gambiran yang disebut sebagai pengembang agama Islam yang memiliki pondok pesantern adalah Kyai Abdul Rohim yang hidup sampai akhir abad ke-19. Kyai Abdul Rohim ini tidak memiliki keturunan, sehingga tidak ada lagi tokoh yang melanjutkan estafet kepemimpinan pondok pesantren. Para santri ini pun mulai meninggalkan Gambiran.
b.    Bencana Alam
Secara geografis Gambiran dibelah oleh sebuah sungai. Alur sungai ini berkelok-kelok yang berhulu di Gunung Muria. Ketika musim penghujan datang tidak jarang sungai ini mendatangkan banjir. Mengingat arusnya sangat deras, ketika datang banjir meluap, tidak jarang mendatangkan korban jiwa maupun harta benda. Diperkirakan dahulu kampung Kajen padat penduduknya, tetapi saat ini tinggal sawah. Migrasi penduduk Kajen disebabkan seringnya sungai ini mendatangkan banjir, sehingga lama-kelamaan penduduknya mulai meninggalkan daerah ini dan pindah ke daerah lain.
c.    Berdirinya Masjid Kota Pati
Menurut prasasti Gambiran, Masjid Kota Pati didirikan pada tahun 1845 M. Masjid ini terletak di sebelah barat pendapa Kabupaten Pati, sehingga status masjid ini sebagai masjid besar kabupaten.
Pendirian masjid ini membawa dampak yang begitu besar bagi Gambiran, pertama, sesuai dengan keterangan Bapak Fadholi, para pemuka agama Islam mulai meninggalkan Gambiran, bahkan muadzin ( orang yang melaksanakan adzan atau panggilan sholat ) masjid Gambiran diboyong dan dijadikan muadzin di Masjid Kota Pati. Sudah menjadi kebiasaan, sistem macapat selalu diterapkan di ibukota kabupaten, dimana salah satu cirinya adalah pusat agama. Hal ini dapat dililat dari adanya hubungan pertalian darah antara orang-orang kauman Pati dengan sebagian penduduk Gambiran. Mereka yang berasal dari keturunan penghulu, ketika meninggal dunia masih tetap di makamkan di kompleks makam penghulu di sebelah utara masjid Baiturrohim Gambiran. Di Desa Saliyan Kecamatam Pati, sebuah perkampungan yang tidak jauh dari pendapa kabupaten Pati memiliki tradisi yang sama dengan Gambiran, yaitu tidak boleh ada gamelan dibunyikan, sehingga sepanjang sejarahnya keduanya tidak ada penduduk yang menggelar wayang kulit. Pondok pesantren yang dikelola oleh Kyai Hambali dan Kyai Hanafi yang berada di Desa Saliyan diyakini pondok pesatren ini dahulu berasal dari Gambiran.
Kedua, masjid Gambiran tidak lagi sebagai tempat untuk mengadakan pernikahan. Setelah masjid Pati Kota berdiri, maka acara pernikahan tidak lagi dilaksanakan di Masjid Baiturrohim Gambiran, tetapi pindah ke Masjid Pati Kota.
d.    Renovasi Masjid Baiturrohim.
Mengapa renovasi masjid menjadi salah satu kemunduran pengembangan Islam di Gambiran. Secara rasional penjelasan ini tidak dapat diterima, tetapi kenyataan yang membuktikan. Menurut keterangan dari berbagai sumber, utamanya dari keterangan Mbah Hisyom ( seorang ulama dari desa Tawangrejo Kecamatan Winong ), bermula pada tahun 1881 Masjid Gambiran di rehab oleh Kanjeng Adipati Hario Candradiningrat. Sesuai dengan bunyi Prasasti Gambiran, masjid diperbaiki selama 8 bulan. Dalam renovasi itu terdapat penggantian kubah, kubah yang berbentuk tempat memasak (ngaron yang terbuat dari tanah liat) diganti dengan kubah yang lebih baik. Mengingat ini termasuk masjid besar. Kubah yang diganti ini diminta oleh salah seorang santri yang berasal dari Desa Winong Kecamatan Winong. Kemudian kubah ini dipasang, tak lama kemudian masjid Winong yang dipasangi kubah ini runtuh. Maka salah seorang santri dari Desa Tawangrejo meminta kubah ini, yang selanjutnya dipasang di masjid desa. Percaya atau tidak Desa Tawangrejo pada saat ini sebagai salah satu pusat pengembangan agama Islam. Tawangrejo yang jauh dari pusat kota memiliki beberapa madrasah mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah ( sekolah dasar ) hingga Madrasah Aliyah (sekolah menengah atas). Masyarakat sekitar Kecamatan Winong berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke madrasah-madrasah di Desa Tawangrejo. Beberapa kali masjid Tawangrejo direnovasi, tetapi kubah tetap dipertahankan di atas tidak ada yang beranai menurunkannya, sehingga sampai saat ini kubah yang dipakai masih tetap berasal dari Gambiran yang berupa ngaron. Sebagai bentuk pengakuan bahwa perkembangan agama Islam berasal dari Gambiran adalah warga Tawangrejo mengakui bahwa Mbah Cungkrung merupakan leluhurnya. Buktinya, pertama, adalah setiap tahlil, nama Mbah Cukrung sekalu disebut. Kedua, siswa madrasah menjelang ujian oleh gurunya disarankan menziarahi makam Mbah Cungkrung. Ketiga, pada saat khoul Mbah Cungkrung para ulama yang diikuti oleh penduduk dan bahkan perangkat desa datang ke makam Mbah Cungkrung.

C.    USAHA MENGEMBALIKAN GAMBIRAN SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN AGAMA ISLAM
Melihat kondisi Gambiran pada saat ini tidak dapat menggambarkan bahwa Gambiran dahulu merupakan pusat pengembangan agama Islam. Kondisi dapat dilihat pada penduduk yang kurang memiliki pengetahuan agama Islam yang cukup. Pada umumnya mereka kurang menguasai membaca Al-Quran secara tartil. Untuk melaksanakan khataman Al-Qur’an yang sedikitnya mengumpulkan santri sebanyak 30 orang sangat sulit. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat sampai dengan tahun 2000, Gambiran tidak memiliki madrasah dan pondok pesantren. Penduduk Gambiran rata-rata pekerjaannya adalah di sektor non-formal, sangat jarang penduduk yang berprofesi sebagai PNS.
Memasuki tahun 2002, beberapa pengurus Ta’mir Masjid Baiturrohim memiliki cita-cita bagaimanakah mengembalikan Gambiran sebagai pusat pengembangan agama Islam. Bebepa langkah yang ditempu adalah
a.    Membentuk Organisasi Tahlil.
Pada bulan September 2002 dibentuk organisasi tahlil yang diberi nama Jama’ah Yassin Tahlil Gambiran. Organisasi ini memiliki jumlah anggota 73 orang, dengan melaksanakan kegiatan mambaca Sholawat Narwiyah, Surat Yassin, dan Tahlil yang dilaksanakan setiap satu minggu satu kali yaitu pada hari Jum’at malam Sabtu secara bergiliran di rumah anggota. Kegiatan lain adalah menyantuni anggota ataupun keluarga anggota yang mendapat musibah sakit ataupun meninggal dunia. Ketika anggota jama’ah Yassin Tahlil meninggal dunia akan mendapat santunan berupa perlengkapan kematian ataupun uang sebesar Rp. 700.000,-.
b.    Memberdayakan TPQ

Gambar 13. TPQ Miftahul Huda.
Dengan dukungan masyarakat, pada bulan Juli 2002, Ta’mir Masjid Baiturrohim memberdayakan kembai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Miftahul Huda. Pada awalnya TPQ ini sudah ada tetapi belum berjalan secara maksimal, sehingga dapat dikatakan TPQ ini hiduppun tak mau, dan matipun tak mau segan. Dan sekarang TPQ Miftahul Huda sudah memiliki 5 ruang kelas yang representatif dengan jumlah santri 125 dan ustad-ustadzag 12 orang.
c.    Rencana Mendirikan Pondok Pesantren
Niat untuk mendirikan pondok pesantren yang berlokasi di sekitar masjid sampai saat ini belum terwujud. Hambatan yang utama adalah belum adanya seorang kyai atau ustad yang bersedia tinggal di sekitar masjid. Pengurus sudah berusaha mencari dan mudah-mudahan dalam waktu dekat ini ada seorang kyai yang bersedia tinggal di sekitar masjid dan mengembangkan agama Islam di Gambiran.
d.    Memakmurkan Masjid.
Berbagai kegiatan yang dilaksanakan untuk memakmurkan masjid. Ada kegiatan tahunan, misalnya melaksanakan tadarus Al-Qur’an setiap hari pada saat bulan Ramadhan, kegiatan bulanan misalnya kegiatan pengajian ibu-ibu muslimat setiap hari Jum’at Pahing, kegiatan mingguan, misalnya setiap malam Jum’at dilaksanakan pembacaan Berjanji ( sejarah Nabi Muhammad SAW ).


BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Gambiran merupakan dusun kecil yang memiliki peran besar dalam pengembangan agama Islam di daerah Pati dan sekitarnya. Peran itu dimulai sekitar awal abad ke-16 dan mulai surut pada abad ke-19. Sebagai pioner dalam pengembangan agama Islam adalah Mbah Cungkrung yang dilanjutkan oelh Mbah Muhammad Hendro Kusomo, Kyai Sholeh sampai dengan Mbah Murtomo. Berbagai bukti telah diketemukan untuk mengatakan bahwa Gambiran tempo dulu merupakan pusat pengembangan agama Islam. Masjid Gambiran, makam-makan kuno menjadi petunjuknya.
Awal bergesernya peran Gambiran sebagai pusat pengembangan agama Islam adalah ketika pemerintah Kabupaten Pati membangun masjid pada tahun 1845. Sejak saat itu peran Gambiran mulai meredup, ditambah pula adanya bencana banjir yang datang setiap saat. Maka lengkaplah untuk mengatakan Gambiran sebagai pusat pengembangan Agama Islam mulai bergeser ke arah kota Pati.
Mulai tahun 2002 masyarakat Gambiran bersama-sama dengan pengurus Ta’mir Masjid Baiturrohim Gambiran mulai berusaha untuk mengembalikan Gambiran sebagai pusat pengembangan agama Islam. Tentunta bukan usaha yang mudah, tetapi perlu dicoba dan diperjuangkan.

B.    SARAN
Sejarah menjadi pelajaran bagi kita semua, dengan memperoleh informasi bahwa Gambiran pernah menjadi pusat pengembangan Agama Islam di daerah Pati dan sekitarnya, maka untuk mengemablikan kejayaan itu bukanlah hal yang mudah. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.    Perlu adanya kesadaran semua warga khususnya orang tua yang memiliki anak, perlu memberi perhatian dan nasehat bahwa pendidikan sangat penting, lebih-lebih pendidikan agama. Orang tua harus mengarahkan anaknya, minimal dapat membaca Al-Qur’an secara tartil.
2.    Perlu adanya kerjasama yang harmonis antara masyarakat dengan pengurus Ta’mir Masjid Gambiran guna merencanakan bagaimanakah pengembangan agama Islam ke depan.
3.    Bahwa untuk mengembangkan pondok pesantren dan dunia pendidikan membutuhkan biaya yang besar. Hal ini harus disadari secara bersama, sehingga ketika diperlukan dana, maka masyarakat harus sudah siap memback up dana tersebut.

INDEKS
Bapak Fadholi, 7, 11, 17
Gambiran, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25
Gunung Muria, 16
Hisyom, 18, 24
Islam, 1, 2, 3, 5, 6, 8, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21
Juru Kunci, 9, 24
Kanjeng Adipati Hario Candradiningrat, 18
KH Muttamakin, 8, 9, 15
Khoul, 7, 9
Kyai Abdul Rohim, 16
Kyai Sholeh, 10, 11, 21
Makam, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15
Masjid Baiturrohim, 5, 6, 12, 13, 14, 15, 18, 19, 20, 21, 24
Mbah Cungkrung, 5, 6, 8, 15, 18, 21
Mbah Sutarto, 10
Pangeran Diponegoro, 11
Prasasti, 3, 4, 14, 18, 24, 25
Sugito, 5, 8, 24
Sutarto, 24
Taman Pendidikan Al-Qur’an, 20
  
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Prasasti Gambiran
Wawancara dengan nara sumber :
Fandoli (Kasi Kesra, keturunan Mbah Murtomo dan sebagai Juru Kunci makam di Gambiran).
Hisyom ( Ulama yang berasal dari Desa Tawangrejo ).
Sugito ( Sebagai imam Masjid Baiturrohim Gambiran ).
Sutarto ( Perawat makam Mbah Sholeh ).

LAMPIRAN
Bunyi Prasasti Gambiran :
Penget pendamelanipun Masjid Dusun Gambiran Distrik Nagari Pati, panuju Panjenenganipun Bupati Nagari Kanjeng Gusti Pangeran Hariyo Condro Hadinagoro rider daerah saking Nadherland seloyo soho medali jenis songsong gelap + Penghulu Imam Nagari Pati Mas Haji Thoyib Awit nduduk siti ing dinten Kamis Wage tanggal 29 Dulhijah tahun Za’ Hijrah Nabi 1302 warsa Jawi 1807 utawi tanggal 9 Oktober 1885 lan dadosipun pindah wau masjid ing dinten Jumat Kliwon tanggal 27 Jumadil Akhir tahun Dal Hijrah Nabi 1303 warsa Jawi 1808 utawi tanggal 2 April 1886.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar